Chapter 1, Bagian 2

 Hari demi hari seperti biasa, Fannar berlatih dengan ayahnya. Akan tetapi sekarang dia tidak sendirian lagi, setelah bertemu dengan Gottfrid dekat rumah tetua Mikkael pada waktu itu. Awalnya Gottfrid malu menerima ajakan Fannar untuk berlatih bersama dengan ayahnya, akan tetapi demi berteman dengan orang yang sebaya dengannya, Fannar tidak menyerah untuk merayu Gottfrid. Karena setiap bertemu dengannya, Fannar melihat Gottfrid yang sedang makan roti gandum di atas pagar batu rumah orang yang tidak jauh dari rumah tetua. Jadi dia merayunya dengan roti gandum kesukaannya tersebut.  

 

   Ayahnya pun senang karena akhirnya Fannar memiliki seorang teman. Hari-hari dipenuhi dengan semangat berlatih, bahkan Gottfrid memanggil Fannar dengan sebutan Ifan. Untuk kemampuan istimewa dari Gottfrid sendiri adalah Extreme Recovery. Saat latih tanding dengan Fannar, dia sangat diunggulkan bahkan mampu mengalahkannya. 

   “Kekuatanmu sangat luar biasa!” ujar Fannar.

   “Terima kasih, kamu juga kuat dalam ilmu sihir” jawab Gottfrid.

   “Benar sekali, seseorang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi yang terpenting adalah pantang menyerahnya, semangat, dan bersyukur” kata ayah Fannar.

   “Waktunya istirahat anak-anak” sahut ibu sambil membawakan dua keranjang yang salah satunya agak lebih besar yaitu, keranjang yang berisi pesanan Mikkael dan roti gandum.

  “Ayo makan Gottfrid” ajakan Fannar.

  “Iya” jawab Gottfrid.

   Mikkael pun datang ke rumah dengan banyak anak kecil yang membuntutinya dari belakang, dan mengambil pesanannya. Serta makan bersama-sama.


   “Jadi aku tidak jadi mengantarkan makanannya hari ini?” tanya Fannar.

   “Iya, yaa.. mumpung kakek lagi keliling bersama anak-anak yang sebaya dengan kalian, jadi sekalian ambil pesanan kakek lalu makan bersama” jawab Mikkael.

   “Hore!! Hari ini latihan kita akan sedikit lama! Benarkan Gottfrid?!” ungkapan Fannar.

  “Iya itu benar, jadi kita akan lebih cepat bertambah kuat!” jawab Gottfrid.

   “Karena kalian habis latih tanding, kalian pasti lelah dengan latihan fisik. Jadi setelah kalian makan kita akan lanjutkan latihan sihir” kata ayah Fannar.

  Setelah mereka menghabiskan roti gandum tersebut. Mereka memulai latihan sihirnya dengan banyak penonton.

   “Latihan kali ini, kalian membuat sebuah teknik sihir sendiri sekreatif dan seefektif mungkin!”

   “Apakah aku tidak salah dengar paman Elvar?” tanya Gottfrid.

   “Kita pasti bisa kawan” kata Fannar. “Ini aku pinjamkan tongkat sihir ayahku, kamu pasti membutuhkannya, aku sudah bisa mengontrol manaku sekarang” sambil memberikan tongkat sihirnya.

   “Umm.. Tidak terimakasih Ifan, aku akan mencobanya dengan tangan kosong” jawab Gottfrid.

  “Ayah, ini aku kembalikan tongkatnya, kami berdua sudah tidak membutuhkan tongkat ini” kata Fannar sambil mengembalikan tongkat itu.

   “Ohh.. baguslah kalau merasa sanggup, ayah jadi senang melihat kalian berkembang dengan cepat” jawab Elvar sambil mengelus kepala mereka berdua dan mengambil tongkat sihirnya. “Okay, kalian lihat ada dua target yang terbuat dari kayu sejauh 8 meter yang berada di arah Utara, hancurkan target tersebut! Ayah kasih tips yah, jadilah satu dengan mana, rasakan alirannya lalu bayangkan bentuknya dan lepaskan!” kata Elvar dengan nada yang sedikit bercanda sambil bicara dalam hati. “(Sebenarnya ini adalah teknik sihir tingkat Sage, terlihat simpel tapi sangat sulit, aku saja masih menggunakan rapalan mantra, dengan kata lain aku masih di tingkat Mage. Akan tetapi jika kalian bisa, maka penanaman sejak dini memang diperlukan untuk kalian)”.

Catatan:

Ada 5 tingkatan pengguna teknik sihir dari yang termudah yaitu:

Caster menggunakan tongkat untuk mengontrol mana atau sebagai media perantara (practice).

Master bisa mengangkat dan menggunakan Grimoire.

Mage menggunakan rapalan.

Expert bisa membuat rapalan dengan pergerakan jari (teknik ini jarang dipelajari karena sangat merepotkan dengan menghafal pola sihir yang tak terhitung jumlahnya, biasanya orang-orang sering melewatkan tingkatan ini langsung ke tingkatan tertinggi).

Dan yang paling tinggi adalah Sage hanya menyebut nama sihir atau bahkan tanpa menyebut nama (tanpa Casting).


***

   Kemudian mereka memejamkan mata dan melakukan apa yang dikatakan oleh Elvar, tapi yang terjadi kemudian..

“{Fire ball}~”Gottfrid |”{Ice Bullet}” Fannar.

Lvl expert Mana cost 90% | Lvl Expert Mana cost??

   Secara bersamaan mereka menyerang target masing-masing dengan akurasi yang sempurna. Satu target hancur dan terbakar terkena ledakan bola api Gottfrid, dan satu lagi hancur dengan membeku di dalam es yang tumbuh lumayan besar serta menyerupai duri dari peluru es Fannar. Anak-anak yang sebaya dengan mereka pun terkejut.

   “(Apa?! Mereka bisa melakukannya?! Sangat mengagumkan)” dalam hati Elvar sambil terkejut.

   Di usia mereka berdua yang tergolong masih dini, tapi mereka mampu melakukannya.

   “(Aku yakin kamu pasti bisa Fannar. Akan tetapi yang membuatku terkejut adalah ada anak yang sebaya denganmu yang juga bisa melakukannya dengan teknik setingkat Sage, tapi dia tidak pingsan walaupun dia hampir menggunakan seluruh mananya. Karena, jika dia menggunakan tongkat sihir atau Grimoire, bisa diminimalisir pemakaian mana dari sihir ini)” gumam Mikkael.

   Saat Mikkael bertepuk tangan, semua yang berada di lokasi tersebut juga ikut bertepuk tangan. Yang awalnya anak-anak yang sebaya dengannya menyebutnya cacat atau bahkan yang menjauhinya, mulai sekarang menjadi sebaliknya.

   “Ayah kagum dengan kekuatanmu Fannar, kamu sudah berkembang sangat cepat bahkan kamu sudah menandingi kekuatan ayah, nak. Dan paman juga kagum dengan kemampuan kamu Gottfrid, tapi apakah kalian tidak merasa pusing, mual atau sebagainya? Karena tips yang ayah ajarkan sebenarnya agak sedikit bercanda” kata Elvar.

   “[APA?!!]” jawab mereka berdua dengan satu kata pertanyaan.

  “Benar nak, tips yang dia ajarkan sedikit bercanda. Karena tips itu adalah tips yang digunakan saat seseorang akan melakukan ujian kenaikan gelar dari Expert ke Sage atau Mage ke Sage” sahut Mikkael.

   “Yah.. aku sih tidak merasakan pusing sama sekali” jawab Fannar. “Aku juga, tidak merasakannya sedikit pun” sahut Gottfrid.

   “I-itu luar biasa, fiuut~” kata Elvar sambil bersiul.

   “Aku kira tingkatan gelar hanya sampai Expert, ternyata masih ada yang lebih tinggi dari itu dong” ujar Fannar.

   “Expert itu tingkatan akhir dari sebuah skill, akan tetapi gelar tidak hanya berhenti sampai di Expert saja. Seperti contohnya pengguna sihir, berawal dari Caster, kemudian Master, lanjut ke Mage, lalu Expert dan terakhir adalah Sage” jawab Mikkael.

   “Aku tidak percaya kalau mereka bisa melakukannya di usia yang begitu muda” sahut ibu Fannar. “Yah.. tapi itulah yang terjadi” sahut Mikkael.

   “Yah.. apapun itu, yang terpenting adalah mereka baik-baik saja” tegas Elvar.

   “Ini momen terlangka sepanjang masa yang mustahil bisa terjadi” kata Elisabet.

   “Secara otomatis mereka sudah mendapatkan gelar Sage, dan Sage termuda untuk pertama kalinya” sahut Elvar sambil membuka Tas Dimensi untuk mengambil sesuatu.

   “[Wow.. apa itu?!]” ucapan Fannar dan Gottfrid yang kagum melihat tas dimensi milik Elvar.

   Sebuah kotak biru yang sangat terang dan memiliki pattern kotak lagi yang berwarna hitam pekat yang terhubung dari luar kotak, bahkan cahaya seperti tidak bisa masuk kedalamnya.

  “Ini adalah tas dimensi, tempat terluas dan tidak memiliki limit untuk menyimpan sesuatu. Semua benda yang tersimpan di sini akan aman, bahkan makanan pun bisa disimpan 1 abad di dalam sini atau bahkan bisa selamanya. Di dalam tas dimensi memiliki fitur menghentikan waktu yang berfungsi untuk mengawetkan makanan, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap manusia. Dengan kata lain seperti tas fleksibel yang bisa dibawa ke mana-mana, dan yang paling hebatnya lagi ini adalah teknik sihir tanpa menggunakan mana sama sekali. Biasanya tas ini digunakan oleh seorang petualang untuk menjelajahi dunia.” jelas Elvar.

  “[Kami akan coba menggunakannya]” sahut semua anak-anak yang berada ditempat tersebut.

   “Baiklah, untuk mengaktifkannya perlu menggunakan satu mantra, jadi kalian ikuti kata kakek yah.. anak-anak!” sahut Mikkael sambil menghentakkan tongkat kayunya ke tanah.

   “[Baiklah, kami siap!]” jawab anak-anak.

  Mikkael menancapkan tongkatnya ketanah, lalu mengulurkan tangannya layaknya berdoa. Dan seketika Grimoire muncul serta melayang diatas tangannya itu. Terpejam lah matanya menandakan kefokusan Mikkael berada di puncaknya...

 “[[{Making matter from Area, Volume, Velocity, Acceleration, Density, Force, Pressure, Work, Power. Which are assembled into a single unit of each formula. Aligned with mana. Dimensional Bag ACTIVATE }]]~”. Rapalan mantra dari Mikkael dibarengin semua anak-anak.

   Kemudian Tas Dimensi dari masing-masing anak telah teraktif kan.

   “Untuk penggunaan mantra hanya bisa digunakan satu kali saat mengaktifkan Tas Dimensi ini. Cara menggunakan Tas Dimensi ini tergantung kontrol kalian masing-masing. Jika kalian ingin membuka Tas Dimensi ini secara otomatis akan terbuka dan begitu juga sebaliknya” jelas Mikkael.

   “Jadi, sudah tidak membutuhkan mantra lagi?” tanya Gottfrid.

   “Benar sekali” jawab Elvar.

   “Oh.. seperti itu” sahut Fannar.

   “Jadi pengajaran sejak dini memang diperlukan yah..?” tanya Elvar ke Mikkael.

   “Itu benar” jawab Mikkael.

   “Ini Fannar, Grimoire yang ayah simpan sejak dulu ayah belajar dengan kakekmu dulu. Sekarang menjadi milikmu dan Gottfrid untuk belajar ilmu sihir yang lebih dalam” kata Elvar sambil memberikan Grimoire yang tadi diambil dari Tas Dimensi tersebut.

***

   Singkat cerita, dua bulan setelah momen tersebut. Anak-anak didesa tempat Fannar dan Gottfrid tinggali, rata-rata sudah setingkat Mage atau pengguna sihir yang setara dengan orang dewasa berkat pengajaran dari Mikkael. Lebih cepat dari desa-desa lain, atau bahkan dari anak-anak yang berada dibelahan dunia. Akan tetapi berita ini belum diketahui oleh siapapun dari luar desa tersebut, dan akan selalu dirahasiakan oleh penduduk desa itu. Karena jika orang diluar desa tahu tentang hal ini, besar kemungkinan terjadinya penculikan anak yang terjadi di desa tersebut. Walaupun mereka terbuka dengan dunia luar, tapi akan tertutup jika seseorang dari luar desa menanyakan hal mengenai anak-anak mereka.

***

   “Ifan, hari ini kita ngapain? Aku jadi bingung kalau paman Elvar sedang keluar desa bersama tetua Mikkael” tanya Gottfrid sambil rebahan diluasnya hamparan rumput hijau dan memandang langit biru. “Aku juga bingung, bagaimana kalau kita latih tanding?” jawab Fannar sambil mengutarakan pendapatnya. “Itu membosankan kalau tidak ada paman Elvar” jawab Gottfrid. “Benar juga yah..” sahut Fannar. “Dua jam kita nggak ngapa-ngapain di padang rumput ini” ujar Gottfrid. “Bagaimana dengan kembang sihir” Fannar mengutarakan pendapatnya lagi. “Kembang sihir bagusnya pas malam hari” tanggapan Gottfrid. “Bagaimana dengan bola api pantul” saran Fannar. “Bola api pantul?” tanya Gottfrid. “Kita akan memantulkan sihir bola api dengan sebuah alat pemukul” jelas Fannar. “Hey.. kelihatannya seru, tapi kita tidak punya tongkat pemukulnya” sahut Gottfrid. “Tenang aku akan membuatnya, {Teknik Alchemy mengubah kandungan oksigen menjadi besi dengan titik lebur 1811 Kelvin kemudian membentuk dan terakhir pendinginan}, ini tongkatnya sudah jadi” pembuatan materi secara ilmiah oleh Fannar. “Wow.. Alchemy? Aku baru melihatnya secara langsung” kata Gottfrid dengan kagum. “Kamu belajar dari siapa?” tanya Gottfrid. “Aku tidak mempelajarinya dari siapapun, aku hanya mengaplikasikannya berdasarkan cerita yang kakek Mikkael ceritakan kepadaku dulu” jawab Fannar. “Tunggu, kamu menirunya dalam sekali dengar? Itu mustahil” ujar Gottfrid. “Iya, tapi itu berhasil hehehe” sahut Fannar sambil menggaruk kepalanya. “Tapi aturannya?” tanya Gottfrid. “Yang tidak bisa menjangkau bola apinya akan tertinggal 1 poin” jelas Fannar. “okay” sahut Gottfrid.

  “Baiklah aku mulai yah” kata Fannar sambil melambungkan bola api level expert. “{Fire Ball}~”

Lvl Expert Mana cost??

  “Aku tangkis ini” kata Gottfrid.

  “hiyaaa” teriak Fannar sambil menangkis kembali bola apinya.

   “Siall! Aku meleset!” kata Gottfrid dibarengi jatuhnya bola api ketanah.

   “1 poin untukku hehehe” sahut Fannar.

   “Hebat juga kamu, tapi aku tidak akan menyerah” jawab Gottfrid “{Fire Ball}~”

Lvl Expert Mana cost 90%

   “Hyaa!” teriak Fannar sambil menangkisnya.

   “terima iniii!” kata Gottfrid sambil menangkis kembali.

   “Ouch!” teriak Fannar yang terjatuh dan bola api itu berhasil mengenai tanah.

   “1 poin untukku juga” sahut Gottfrid.

   “Lumayan juga, sekarang giliranku” sahut Fannar. “{Fire Ball}~”

Lvl Expert Mana cost ??

***

   Saking serunya mereka sampai lupa dengan waktu dan hari pun mulai gelap.

  “Ok-ok, aku capek dan hari sudah mulai gelap” kata Fannar.

   “Iya aku juga, poin kita 20-20 kita seri untuk hari ini. Kita lanjutkan dilain hari saja, terlalu sering menggunakan kemampuan istimewa melelahkan bukan” sahut Gottfrid.

   “Tentu saja” jawab Fannar.

“Oii.. anak-anak ayo kita pulang!” teriak Elvar dari kejauhan.

   “Ayah sudah pulang dari desa sebelah” kata Fannar. “Benar paman sudah pulang” sahut Gottfrid. Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.



Komentar